Ruang Fiskal Masih Lega, APBN 2025 Tetap Tertekan Defisit dan Pendapatan Lesu

05.07.2026


Pemerintah menegaskan posisi fiskal Indonesia pada akhir 2025 masih berada di zona aman, meskipun realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun tersebut dibayangi oleh pendapatan yang meleset dari target dan tekanan defisit. Dalam Rapat Paripurna DPR ke-23 masa persidangan V tahun sidang 2025–2026, Kamis (2/7/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN 2025, sekaligus menyoroti peran Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai bantalan fiskal utama.

Purbaya menjelaskan, posisi SAL pada awal 2025 tercatat sebesar Rp457,54 triliun. Sepanjang tahun berjalan, pemerintah memanfaatkan Rp93,15 triliun dari dana tersebut untuk mendukung pembiayaan APBN. Di sisi lain, pemerintah membukukan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp72,40 triliun dan melakukan sejumlah penyesuaian. Alhasil, posisi SAL per 31 Desember 2025 tercatat Rp438,26 triliun, yang dinilai masih memadai untuk berfungsi sebagai penyangga fiskal menghadapi berbagai risiko dan ketidakpastian ke depan.

Dari sisi kinerja anggaran, Purbaya mengakui banyak target APBN 2025 yang tidak terpenuhi. Realisasi pendapatan negara dan hibah hanya mencapai Rp2.765,13 triliun atau 92,01% dari target dalam APBN 2025 yang dipatok Rp3.005,12 triliun. Kelesuan terutama terjadi pada penerimaan perpajakan yang hanya terealisasi Rp2.218,17 triliun atau 89,05% dari sasaran. Pemerintah menyebut tekanan eksternal berupa fragmentasi perdagangan, eskalasi tensi geopolitik, serta penyesuaian kebijakan dalam negeri seperti perubahan PPN barang mewah dan percepatan restitusi pajak sebagai faktor yang menahan laju penerimaan.

Kendati demikian, neraca pemerintah dinilai tetap solid. Per 31 Desember 2025, total aset pemerintah tercatat sebesar Rp14.600,98 triliun, sementara total kewajiban mencapai Rp11.527,29 triliun. Dengan demikian, ekuitas pemerintah atau kekayaan bersih negara berada di level Rp3.073,69 triliun. Dari perspektif operasional, pendapatan pemerintah tercatat Rp3.006,42 triliun, sedangkan beban operasional mencapai Rp3.429,51 triliun sehingga menimbulkan tekanan defisit pada laporan operasional. Pemerintah menilai kombinasi SAL yang kuat dan neraca yang positif mencerminkan kapasitas fiskal yang masih cukup untuk menjaga stabilitas sekaligus menopang agenda pembangunan secara berkelanjutan, meski disiplin kebijakan tetap dibutuhkan untuk merespons dinamika ekonomi global dan tekanan pendapatan ke depan.

從紅磡到長沙灣 富臨中菜收縮折射港飲食業逆風
香港飲食業在經濟逆風下持續「退潮」,主打平價點心與海鮮的老牌中式酒樓亦難獨善其身。位於紅磡明安街的「富臨漁港...
官方與民間樓指齊創多年新高 中小型單位領漲
香港住宅樓價在利率回落及本地銀行兩度減息帶動下延續升勢。反映二手樓價走勢的中原城市領先指數(CCL)最新報1...
環保杯成通勤新標配?台北周四加碼補貼測試消費行為轉向
台北市正把手搖飲變成一場減塑實驗。台北市環保局宣布,自7月2日至12月31日攜手連鎖飲料品牌「迷客夏」與「T...
三接二期預算自94億增至253億受質疑 皇昌營造與世曦金流遭檢調追查
中油第三座天然氣接收站(觀塘三接)第二期外推防波堤工程傳出重大採購爭議,遭匿名檢舉從原先約新台幣94億元的初...